Pertumbuhan gigi anak seharusnya mengikuti proses alami ketika gigi susu tanggal dengan sendirinya. Namun tidak semua anak mengalami proses ini dengan lancar. Persistensi gigi adalah kondisi ketika gigi susu masih bertahan di rongga mulut. Meski pun gigi permanen di bawahnya sudah mulai tumbuh.
Kondisi ini sering disepelekan orang tua karena dianggap hanya keterlambatan biasa. Padahal jika kondisi ini tidak ditangani bisa berdampak panjang. Terutama pada susunan gigi anak di masa depan.
Mengapa Persistensi Gigi Bisa Terjadi?
Secara normal, akar gigi susu akan mengalami resorpsi atau penyerapan secara bertahap. Terjadinya saat gigi permanen di bawahnya mulai berkembang dan mendorong ke permukaan. Proses resorpsi inilah yang membuat gigi susu goyang dan akhirnya tanggal sendirinya.
Persistensi gigi terjadi ketika proses resorpsi ini tidak sempurna. Sehingga akar gigi susu masih cukup kuat untuk menahan posisinya. Meski pun gigi permanen sudah berusaha menembus gusi.
Penyebabnya bisa bervariasi. Mulai posisi benih gigi permanen yang tidak tepat berada di bawah gigi susu dan kurangnya tekanan dari gigi permanen terhadap akar gigi susu. Termasuk juga faktor genetik yang membuat proses resorpsi berjalan lebih lambat dari biasanya.
Pada beberapa kasus, kondisi ini juga berkaitan dengan kurangnya ruang di rahang. Dan pada akhirnya gigi permanen tumbuh pada jalur yang berbeda dari posisi seharusnya.
Dampak Persistensi Gigi yang Perlu Diwaspadai
Jika tidak ditangani sejak dini, kondisi ini dapat menimbulkan beberapa konsekuensi pada tumbuh kembang gigi anak:
- Gigi permanen tumbuh tidak sejajar karena terhalang gigi susu yang masih bertahan di posisinya
- Susunan gigi berjejal akibat ruang yang tersedia tidak cukup untuk gigi permanen berkembang dengan posisi yang ideal
- Gigi tampak bertumpuk dengan dua baris gigi yang terlihat bersamaan, kondisi yang sering disebut gigi ganda
- Risiko gigitan yang tidak normal karena posisi gigi yang bergeser dari jalur pertumbuhan seharusnya
- Kebutuhan perawatan ortodonti di kemudian hari jadi lebih besar jika kondisi dibiarkan tanpa penanganan
Langkah Penanganan yang Perlu Dilakukan
Penanganan persistensi gigi sebaiknya tidak ditunda terlalu lama. Apalagi setelah orang tua menyadari munculnya gigi permanen di belakang atau di samping gigi susu yang masih ada. Dokter gigi akan melakukan pemeriksaan menggunakan rontgen untuk melihat posisi dan perkembangan benih gigi permanen secara menyeluruh.
Jika diperlukan, pencabutan gigi susu yang persisten akan dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi gigi permanen tumbuh pada jalur yang benar. Semakin cepat ditangani, semakin besar kemungkinan gigi permanen anak tumbuh dengan susunan rapi tanpa perlu perawatan tambahan nantinya. Untuk konsultasi mengenai permasalahan gigi dan mulut, Hubung Wibowo Dental Clinic di sini.





